Mata pencaharian dan perekonomian suku Korowai

Halo semua, perkenalkan nama saya Abiel Kent Aurick Tristan Bate'e dari SMA Swasta BNKP Gunungsitoli. Di sini saya membahas mengenai suku mata pencaharian dan perekonomian dari suku Korowai. Selamat membaca semuanya

Kondisi ekonomi wilayah suku Korowai yang ada di Kabupaten Pegunungan Bintang hingga saat ini masih sangat terisolir dan tertinggal dari pembangunan-pembangunan yang  dilakukan oleh pemerintah, padahal suku ini diapit oleh lima kabupaten yang ada di Papua.

  
Salah satu pemilik dusun Kali Dairam Korowai di Maining 33 yang bernama Ben Yarik, mengemukakan bahwa suku Korowai adalah suku yang tertinggal pembangunan nya dari 5 kabupaten yaitu 
Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Asmat, Boven Digoel dan Mappi

Sudah bertahun-tahun pemerintah tidak pernah sekalipun membangun Korowai, hanya hasil emas untuk ekonomi mereka, sehingga suku Korowai bisa menambang dan membantu kehidupan keluarga mereka.

Hingga saat ini, kata Ben, tak pernah sekalipun pemerintah memberikan jaminan untuk warga yang ada di hutan belantara Korowai. Jika semisal pertambangan emas yang saat ini dikelola oleh warga ditutup siapakah yang akan  menjamin kehidupan masyarakat kedepannya. 

Saat ini masyarakat suku Korowai yang ada di pedalaman hutan belantara tidak pernah menikmati hasil pembangunan dari pemerintah tidak seperti daerah lain yang telah di bangun oleh pemerintah. 

Masyarakat suku Korowai hanya mengandalkan pertambangan emas untuk menghidupi ekonomi dan melanjutkan kehidupan mereka. Oleh karena itu masyarakat suku Korowai tidak ingin jika pertambangan emas yang ada di daerah tersebut di tutup pemerintah. 

Selama ini mata pencaharian suku Korowai hanya bergantung pada alam bahkan pemenuhan kehidupan mereka didapatkan dengan berburu, menangkap ikan, membuat garam, berladang dan pertambangan emas.

Mereka berburu hewan-hewan seperti babi hutan, burung kasuari, burung, ular dan serangga-serangga kecil. Lalu untuk menangkap ikan mereka menggunakan bubu dan tombak. Sedangkan untuk memenuhi karbohidrat, mereka mengolah sagu, umbi-umbian dan juga pisang. Lalu untuk memenuhi protein, mereka mempunyai makanan utama yaitu larva kumbang Capricorn. Makanan nabati juga sangat penting bagi mereka, terutama daun palem, pakis, sukun dan buah pandanae merah.

Uang yang mereka dapat pertama kali berasal dari para misionaris. Mereka juga sering membantu kegiatan para misionaris untuk mendapatkan rupiah. Mereka menggunakan uang tersebut untuk membeli barang di toko-toko lokal seperti garam, pakaian dan pisau cukur. 

Lalu, suku Korowai mempunyai metode penyembuhan untuk menyembuhkan anggota suku mereka. Pemerintah lalu mengelola metode penyembuhan tersebut dan diperkenalkan dan dijadikan sebagai program kesehatan. Mereka juga di beri upah untuk melakukan hal tersebut. Akan tetapi, para pemerintah masih belum memberikan jaminan pembangunan-pembangunan infrastruktur pada suku Korowai. 

Banyak dari suku Korowai yang tidak lewat sekolah dasar akibat kurangnya infrastruktur dari pemerintah. Hanya beberapa saja suku Korowai yang berhasil mengenyam pendidikan menengah di kouh, Boven Digoel atas. 

Pada tahun 1990, suku Korowai telah terlibat dalam proyek-proyek kehutanan perusahaan asing. Mereka dibayar untuk menjadi bekerja sebagai pemandu wisata dan pengemudi perahu. Mereka menggunakan uang dari bekerja tersebut agar bisa menghidupi ekonomi mereka.

Namun, pada saat ini suku Korowai yang bergantung pada sumber daya alam untuk kelangsungan kehidupan mereka tidak lagi cukup terlebih-lebih dengan seiring berjalan nya waktu dan modernisasi, suku Korowai menghadapi perubahan sosial dan budaya yang kompleks, sehingga mereka membutuhkan infrastruktur dari pemerintah akan tetapi sampai saat ini pemerintah tidak melakukan pembangunan apapun berbeda dengan daerah lain. Hingga saat ini ekonomi suku Korowai hanya mengandalkan pertambangan emas dan hasil alam untuk kelangsungan kehidupan mereka. 

Oleh karena itu, para masyarakat suku Korowai ingin pemerintah memperhatikan mereka agar keadaan mereka tidak semakin tertinggal. 

Sekian dari pembahasan saya mengenai mata pencaharian dan perekonomian suku Korowai ini. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan dan tata bahasa saya. Sekian dan terimakasih






Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harinake: Makanan kehormatan dari Nias Utara dan Nias Barat

Berhasilnya masyarakat Wonogiri merehabilitasi hutan dan lahan di Wonogiri